Rabu, 22 / November / 2017
Harga Gambir Melonjak 2 Kali Lipat Lebih, Petani Sumringah

| EKONOMI
Minggu, 20 Maret 2016 - 16:08:36 WIB
LIMAPULUH KOTA, RIAUSATU.COM-Masa ''keemasan''  itu kembali lagi? Boleh jadi. Realitas yang terhampar sejak sekitar sebulan belakangan memang memunjukkan gejala yang sangat menggembirakan, yaitu harga jual gambir melonjak sangat tajam di pasaran. Bahkan lonjakan kenaikan harganya terbilang cukup fantastis, yaitu di atas angka 100 persen.

Gambir, komoditas andalan Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, yang sejak sekitar lima tahun belakangan harganya terus merosot, belakangan menunjukan gejala sebaliknya. Kalau sebelumnya setiap kilogram gambir dihargai tidak sampai Rp15.000 sampai Rp18.000 di tingkat pedagang pengumpul, tapi sekarang sudah bisa dilepas dengan harga mencapai Rp40.000/kg.

Tidak semua gambir dihargai Rp40.000/kg, karena sangat tergantung dengan kualitas gambir yang dijual. Setiap kecamatan, bahkan nagari, sentra gambir, di daerah ini menghasilkan gambir dengan tingkat kualitas yang berbeda. Yang dihargai dengan Rp40.000/kg merupakan gambir dengan kualitas terbaik, yang tidak dicampur dengan bahan apapun.

Makanya, selain yang dihargai Rp40.000/kg, ada juga gambir yang hanya dihargai Rp35.000/kg. Bahkan di sebuah nagari sentra produksi, gambir di sini hanya dihargai Rp33.000/kg. Terlepas dari perbedaan tingkat harga tersebut, yang jelas angka penjualan di atas Rp30.000/kg telah membuat petani gambir seakan kembali ''menemukan dunianya yang hilang.''

Kenapa tidak, karena hampir lima tahun para petani gambir di Limapuluh Kota terkungkung oleh tingkat harga yang sangat rendah—sebuah harga yang jangankan mendapatkan untung, untuk menutupi biaya produksi saja sudah tidak memadai. Dengan harga yang cuma Rp15.000 sampai Rp18.000/kg di tingkat pedagang pengumpul, memang membuat petani seakan tak bisa berharap dengan komoditas gambir yang dimilikinya.

Idealnya, sebagaimana dituturkan oleh sejumlah petani yang sudah lama menggantungkan sumber konominya dari komoditas gambir, harga 1 kg gambir setara dengan 2,5 beras. Kalau harga beras Rp17.000/gantang, mak harga jual gambir yang ideal minimal Rp45.000/kg. Dengan tingkat harga sebanyak itu, selain sudah mampu menutupi biaya produksi, petani dan pekerja di ladang gambir juga diuntungkan.

Nah, dalam rentang waktu lima tahun belakangan, jangankan Rp45.000/kg, menyentuh angka Rp20.000/kg saja tidak pernah. Tak ayal banyak petani gambir yang kelimpungan dibuatnya. Sebab, dengan harga jual sebanyak itu, seorang pekerja yang menjadi buruh di ladang gambir, hanya mendapat upah kerja antara Rp250.00-Rp400.000/pekan. Dihadapkan dengan tingkat harga barang-barang belakangan ini, nilai pendapatan sebanyak itu memang tidak banyak yang bisa diperbuat untuk memutar roda ekonomi keluarga.

Di saat para pekerja tidak mendapat upah yang memadai karena harga jual gambir yang sangat rendah, para petani pemilik ladang juga sangat dirugikan oleh kondisi itu. Di saat ia harus tetap mengeluarkan biaya untuk menyiangi ladang gambir yang dimilikinya agar tidak merimba, sementara hasil yang diharapkan nyaris tidak ada. Kalau ketika harga murah masih ada petani yang memproduksi ladangnya, itu tidak  lebih dengan satu tujuan, yaitu agar bagaimana ladang jangan sampai merimba.

Karena rantang waktu harga gambir yang sangat murah begitu lama, tak heran banyak ladang gambir petani yang merimba lantaran tidak sedikit petani pemilik padang gambir menoleh ke usaha atau kegiatan lain, hanya sekadar untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Bagi mereka, mengolah ladang gambir di saat nilai jual gambir sangat rendah, hanya untuk mengidup pekerja saja, sementara mereka nyaris tidak dapat apa-apa dari ladang gambir yang dimilikinya.

Tapi, masa kelat yang super-pahit bagi para petani gambir itu mulai menampakkan tanda-tanda berakhir. Terhitung sejak sekitar sebulan terakhir, harga gambir mulai membaik di pasaran, bahkan kenaikan harganya sampai menyentuh angka yang tidak diduga. Dengan harga yang mencapai Rp33.000 sampai Rp45.000/kg di tingkat pedagang pengumpul, harapan yang seakan telah penuh dari tanaman gambir seakan sudah kembali lagi.

Isun, 34, seorang pekerja ladang gambir di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, megaku bahwa dengan nilai jual Rp33.000/kg, setidaknya dalam setiap pekan ia mengantongi penghasilan untuk keluarganya Rp1.000.000. ''Kalau kita dapat kawan yang mahir dalam mengolah gambir, bisa-bisa membawa penghasilan Rp1,5 juta/pekan,'' terang bapak satu anak ini.  Jelas saja tingkat penghasilan sebanyak itu membuat Isun dan keluarganya menjadi sumringah.

Penghasilan pekerja di ladang gambir sebanyak itu boleh dikatakan menjadi penghasian bersih karena sejumlah kebutuhan pekerja sudah ditanggung oleh si pemilik ladang. Satu contoh beras selama bekerja, menjadi tanggungan pemilik ladang. ''Paling yang dibeli hanya rokok atau kopi selama bekerja di ladang,'' terang Isun. Hari-hari dihabiskan di ladang dan hanya pulang sekali sepekan, coba, apalagi yang dibeli sebagai jalan untuk uang keluar.

Tapi masalah baru juga muncul menyertai kenaikan harga gambir. Yaitu, semakin terbatasnya jumlah ladang yang bisa diolah karena kebanyakan ladang gambir terbilang lama ditelantarkan oleh pemiliknya. Di sebuah nagari di Limapuluh Kota yang terbilang sebagai penghasil utama gambir, prediksi sementara pihak menyebutkan jumlah ladang gambir yang bisa diolah tidak lagi sampai 10 persen.

Akibatnya, banyak di antara pekerja gambir yang tidak mendapatkan ladang untuk diolah. Di satu sisi keinginan mereka bekerja di ladang gambir sangat tinggi karena dinanti tingkat upah yang jauh lebih dari cukup, sementara di bagian lain mereka dihadapkan dengan realitas bahwa sudah banyak di antara ladang gambir yang ada selama ini tak lagi bisa diolah karena sekian lama dibiarkan merimba.

Dampak lain, arus mobilitas barang dan orang dari sejumlah nagari di Kecamaran Kapur IX ke Payakumbuh yang selama beberapa tahun belakangan tampak senyap, belakangan tampak mulai bergairah lagi. Bisa dimaklumi, memang, karena Kapur IX termasuk kecamatan sentra utama gambir di Kabupaten Limapuluh Kota dengan tingkat penguasaan areal gambir petani yang lumayan luas.

Kalau selama beberapa tahun belakangan sejumlah bus angkutan orang hanya berisi beberapa penumpang saja setiap hari ke Payakumbuh, belakangan sudah tampak kembali terisi penuh. Wajah-wajah ceria juga terpapar dari penumpang bus itu, yang rata-rata menggantungkan sumber ekonominya dari tanaman gambir. ''Kalau lamo harago gambia maha saroman iko, dijamin banyak nan kayo mandadak,'' kata salah seorang di antara mereka. (dri)


DIBACA : 11518 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Selasa, 25 April 2017 - 18:24:40 WIB
PEKAT-IB Minta Pemkab Rohil Serius Atasi Penyalahgunaan Lem Cap Kambing
Selasa, 25 April 2017 - 18:00:24 WIB
Ada Tren Penurunan pada Sektor Perikanan Tangkap di Rohil
Minggu, 23 April 2017 - 16:19:15 WIB
Keindahan Terumbu Karang Pulau Jemur akan Dipamerkan di Riau Travel Mart
Rabu, 19 April 2017 - 16:00:47 WIB
Program Restocking, Cara Pemkab Rohil Mengembangkan Ikan Selais
Selasa, 18 April 2017 - 16:24:20 WIB
Dinkes Rohil Belum Temukan Kasus DBD Meski Hujan Berkepanjangan
Selasa, 18 April 2017 - 16:06:06 WIB
Satpol PP Rohil akan Tindak Tegas Pedagang yang Berjualan di Badan Jalan
Senin, 17 April 2017 - 16:25:22 WIB
Dibuka Sejak 7 April, Belum Ada yang Daftar Ikut JPT Pratama di Rohil
Senin, 17 April 2017 - 16:01:41 WIB
2017, Rohil Diperkirakan Butuh 5.000 Unit RLH
Minggu, 16 April 2017 - 15:19:18 WIB
Bupati Suyatno Berharap Tim PS Rohil U-22 Bawa Nama Baik Daerah
Sabtu, 15 April 2017 - 15:55:58 WIB
Wabup Janji Dukung PSSI Rohil Kembangkan Olahraga Sepakbola
Rabu, 05 April 2017 - 16:05:50 WIB
Sekda Rohil Tawarkan Konsep Bagan Heritage untuk Membangun Pariwisata
Rabu, 05 April 2017 - 15:36:23 WIB
Legislator Minta Pemkab Rohil Siapkan Data Kongkrit Tenaga Honorer
Senin, 03 April 2017 - 15:54:51 WIB
Besok Pemkab Rohil akan Lounching Bagansiapiapi Of Heritage
Senin, 03 April 2017 - 15:49:11 WIB
1.634 Siswa di SMK se-Rohil Ikuti UNBK, Kadisdikbud: Kita Tak Pasang Target
Minggu, 02 April 2017 - 16:45:32 WIB
Narkoba Marak di Rohil, Legislator Riau: Tegakkan Hukum Seadil-adilnya
Minggu, 22 November 2015 - 12:38:32 WIB
Memalukan! Massa HMI Makassar Makan Tak Bayar Malah Main Ancam di RM Umega
Minggu, 11 Oktober 2015 - 12:26:15 WIB
Wuuih, Germo DN Pamer Cewek Cantik dan Seksi di Media Sosial
Sabtu, 16 Juli 2016 - 17:06:21 WIB
Suku Bunga Lebih Murah, BRI Tawarkan Program BRIguna untuk PNS
Minggu, 13 September 2015 - 20:27:52 WIB
Malang Nian Nasib Warga Pekanbaru
Gawat! Saat Bencana Asap, Besok PLN Matikan Lampu
Jumat, 28 Agustus 2015 - 21:21:45 WIB
Protes Enam Tersangka Lain Bebas Berkeliaran
Korupsi Dana Bansos Bengkalis, Jamal Minta Polisi Tahan Herliyan Saleh Dkk
Jumat, 01 Mei 2015 - 17:12:31 WIB
Laju Pertumbuhan Penduduk Riau Jauh di Atas Rata-rata Nasional
Minggu, 17 Januari 2016 - 21:57:49 WIB
Juga Gratiskan BBNKB
Pemprov Riau Rencanakan Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor
Kamis, 06 Agustus 2015 - 20:41:49 WIB
Selama jadi Bupati Inhu, Yopi Arianto Sering Bermasalah dengan Hukum
Minggu, 20 Maret 2016 - 16:08:36 WIB
Harga Gambir Melonjak 2 Kali Lipat Lebih, Petani Sumringah
Senin, 02 Februari 2015 - 17:14:39 WIB
Januari 2015, Sudah Ratusan Proposal Beasiswa Masuk Ke Pemprov
Selasa, 11 November 2014 - 19:04:48 WIB
Bersama Bang Riki "Kilananging Jagad"
Malam Ini, Kolam Hijau Raja Kecik Siak
Senin, 01 Februari 2016 - 08:42:09 WIB
Ssstt... Ini Dia Foto Pesta Bawah Tanah Gila-gilaan Pangeran Arab
Sabtu, 10 Oktober 2015 - 14:47:08 WIB
Kisah 'Anak-anak Asuh' Germo DN yang Bergelimang Kemewahan
Kamis, 09 Oktober 2014 - 14:05:58 WIB
Alamak, Kabarnya Annas Mengaku ke KPK Suap DPRD Riau untuk Sahkan APBD 2015
Minggu, 17 Mei 2015 - 11:16:54 WIB
Serial Langkah Kecil Menuju Baitullah (Edisi 1)
Jamuan Allah Bagi Tamu-Nya
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved