Selasa, 21 / Januari / 2020
Sempat Putus Berobat Karena Menunggak Iuran BPJS
Sri Ingin Kesembuhan dari Kanker Ganas Kepala

| PERISTIWA
Minggu, 12 Januari 2020 - 18:29:24 WIB
PEKANBARU,RIAUSATU.COM-Sri Rahayu, ibu rumah tangga yang tinggal menumpang bersama suami dan 4 orang anak perempuannya di jalan Cipta Karya gang Azziziyah Perumahan Pesona gang Bahagia II RT 06 RW 09 Kelurahan Sialang Munggu, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Riau, sudah dua tahun menahan penyakit kanker ganas dibagian kepalanya.

Wanita kelahiran di kota Padang Sumatera Barat 34 silam itu terus berjuang hidup melawan penyakit yang ia alami.

"Pertama kena itu bulan April 2018, tanda-tandanya demam, badan meriang, langsung saya berobat ke klinik yang ada BPJS. Disana saya ditanya, dan saya jawab ada Teroid. Dari klinik itu saya dirujuk ke Rumah Sakit swasta. Darisana jumpa dokter spesialis penyakit dalam. Dan saya bilang, kepala saya bengkak, dok. Mungkin karena masih awal tidak nampak benjolannya, dan saya dikasih obat teroid. Setelah beberapa bulan, saya minum obat teroid saja dan saya sempat putus berobat pertamanya karena menunggak biaya BPJS. Akhirnya kepala saya bertambah besar," ujar Sri kepada riausatu.com, Sabtu (11/1/2020).

Lalu, sambungnya, saya berunding bersama keluarga untuk bisa bayarkan BPJS saya.

"Setelah itu, saya berobat lagi ke klinik swasta dan sekaligus dirontgen. Setelah hasil rontgen keluar, saya disuruh jumpa dengan dokter spesialis tulang. Disana dirujuk lagi ke dokter spesialis bedah plastik. Darisana dirujuk lagi ke bedah syaraf dan disuruh scan. Setelah hasil scan keluar, saya dirujuk lagi ke rumah sakit umum," ungkap Sri.

Menurut Sri, dari hasil diagnosa dokter itu awalnya penyakit tumor ganas, tapi sekarang sudah kanker ganas di kepala.

"Waktu itu masih kecil (penyakitnya,-red), belum membesar seperti sekarang ini. Dan saya langsung berobat dan kontrol terus ke Rumah Sakit. Tapi karena proses BPJS, maklumlah, antri, menunggu prosedurnya lama. Jadi semakin besar, semakin besar. Dan dokternya sudah angkat tangan dari bedah syarafnya dan saya disuruh coba ke dokter bedah syaraf yang lain sampai ke Rumah Sakit di Padang," ulasnya.

Sri berharap dapat sembuh dari penyakitnya dan ada donatur yang membantunya.

"Untuk biaya, saya berharap ada donatur untuk membantu pengobatan saya," ucapnya.

Aktivitas kesehariannya, kata Sri, untuk memasak terpaksa menunggu anak gadis sulungnya pulang sekolah.

"Kalau dulu aktivitas normal. Tapi sekarang banyak tidur saja. Untuk aktivitas makan masih bisa seperti biasa," akuinya sembari mengatakan, untuk konsumsi micin tidak diperbolehkan oleh dokter, apalagi makanan berbahan berpangawet.

Sri juga menceritakan bahwa ia telah berusaha melakukan pengobatan hingga ke terapi lintah yang ada di daerah Sumatera Barat, namun, kata Sri, belum ada perubahan atas penyakitnya itu.

"Untuk terapi lintah itu, Alhamdulillah, keluarga membantu untuk biayanya. Sekali terapi, habis uang Rp 800 ribu. Dan akhirnya putus juga pengobatan terapinya karena biaya cukup besar itu," bebernya.

Sri juga mengungkapkan bahwa dikepalanya itu dirasakan nyeri.

Untuk diketahui, Sri dan suami beserta 4 orang anaknya perempuan itu tinggal menumpang di rumah orangtuanya di salah satu perumahan Pesona jalan Cipta Karya, Tampan, Pekanbaru.

Keseharian suami Sri, bekerja sebagai buruh bangunan dengan gaji mingguan.(fat)

DIBACA : 58 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved