Minggu, 21 / April / 2019
Dua Tahun Teror Novel dan Peringatan Terakhir untuk Jokowi

| NASIONAL
Kamis, 11 April 2019 - 13:36:14 WIB
JAKARTA, RIAUSATU.COM-Banjir perhatian diterima penyidik KPK Novel Baswedan saat disiram air keras oleh orang tak dikenal, 11 April 2017 silam. Presiden Jokowi bahkan sempat memerintahkan agar kasus Novel segera dituntaskan.

Hari ini, genap dua tahun berlalu sejak teror tersebut, tetapi perhatian dari para pejabat, petinggi kepolisian hingga Presiden Jokowi, nyatanya semu belaka. Perhatian itu tak diikuti langkah konkret penanganan kasus yang cepat dari kepolisian.

Sebelah mata Novel masih belum sepenuhnya melihat jelas. Pelaku teror pun masih berkeliaran bebas. Sementara tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang diminta Novel dan para aktivis antikorupsi semakin tak menentu rimbanya.

Namun Jokowi harus kembali menimbang serius sikap pasifnya terhadap aspirasi pembentukan TGPF. Ini karena momentum peringatan kasus Novel pada hari ini, hanya terpaut beberapa hari saja dengan hari pencoblosan Pemilu 2019, 17 April mendatang.

Bila terus bersikap pasif atas aspirasi tersebut, bukan tak mungkin para pemilih akan semakin meragukan komitmen Jokowi dan pemerintahannya dalam pemberantasan korupsi dan penguatan KPK.

''Iya, ini panggilan terakhiir. Selama ini kalau kita dengar Jokowi masih sebatas verbal belum terlihat dalam kebijakan,'' kata pengamat hukum pidana dari Universitas Indonesia Chudry Sitompul kepada CNNIndonesia.com, Rabu (10/4).

Anggapan atas lemahnya komitmen Jokowi terhadap pemberantasan Jokowi terbilang wajar mengingat perkembangan penyidikan kasus Novel selama dua tahun terakhir memang bisa disebut jalan di tempat.

Chudry pun mengingatkan bahwa kasus Novel akan menjadi rapor merah bila tak mampu dituntaskan. Sebab, lanjut dia, kasus ini masuk dalam kategori mudah karena polisi memiliki data pelaku tindak kejahatan.

''Kasus seperti ini seharusnya tidak sulit dicari, polisi sudah punya data penjahat yang melakukan seperti ini, sudah terpetakan,'' tuturnya.

Tim Khusus Tito

Chudry mengatakan keberpihakan Jokowi pada pemberantasan korupsi di Indonesia lewat kasus Novel dapat ditunjukkan dengan menerbitkan sebuah keputusan (keppres) untuk membentuk TGPF menggantikan tim khusus bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang belum berhasil menuntaskannya hingga saat ini.

Tito membentuk tim khusus pada awal Januari 2019, setelah menerima rekomendasi dari Komnas HAM yang terbit pada 21 Desember 2018.

Dalam rekomendasi itu disebutkan bahwa Novel pernah menyebut dugaan keterlibatan seorang jenderal polisi dalam kasus yang dialaminya.

Pembentukan tim oleh Tito mendapat kritik. Sebagian pihak menganggap tim dihuni oleh orang-orang yang selama ini dekat dengan kepolisian.

Adapun soal kerja, tim khusus yang dibentuk Tito nyaris tidak terdengar perkembangan kinerjanya.

Hingga kini, tidak ada hasil penyidikan yang diungkap oleh tim yang berisi perwakilan KPK, pakar, dan anggota Polri itu.

Lihat juga: Dua Tahun Kasus Novel Baswedan, Warga Gelar Subuh Berjemaah
Keraguan publik terhadap tim ini pun hanya dijawab lewat pernyataan, bukan oleh kerja dan perkembangan penyidikan.

Salah satu anggota tim khusus Ifdhal Kasim, misalnya, sempat berkata tidak ambil pusing dengan keraguan Novel dalam menuntaskan kasusnya.

Ifdhal menuturkan pihaknya akan terus bekerja tanpa terpengaruh berbagai opini yang berkembang di tengah masyarakat.

''Boleh saja pesimis dan sebagainya, tapi tim tidak akan terpengaruh dengan opini berkembang. Kami akan melaksanakan apa yang jadi mandat kami dan mandat itu kami pertanggungjawabkan ke publik Indonesia,'' kata Ifdhal, Rabu (16/1).

Anggota tim gabungan lain, Hermawan Sulistyo, mengatakan pihaknya bekerja bukan untuk polisi melainkan kepentingan bangsa.

Hermawan mengatakan tak ada kaitan pembentukan ini dengan kepentingan Presiden Joko Widodo yang mengikuti gelaran Pilpres 2019.

''Kami akan bekerja independen, dan saya tegaskan juga, saya (kami) tidak bekerja untuk polisi, kami bekerja untuk bangsa ini,'' kata Hermawan kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/1).

Polri sendiri sebenarnya sempat merilis dua sketsa wajah yang salah satunya dicurigai sebagai pelaku penyerangan Novel. Itu terjadi pada Agustus dan November 2017.

Namun, polisi belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab atau sebagai tersangka terkait kasus Novel hingga kasus ini.

Desakan kepada Presiden

Wadah Pegawai (WP) KPK kembali mengingatkan Jokowi tepat di dua tahun pasca-insiden serangan teror terhadap Novel.

Ketua WP KPK Yudi Purnomo Harahap mengatakan pihaknya kembali mendesak Jokowi untuk membentuk TGPF yang independen. Menurut dia, Jokowi harus menunjukkan komitmen pada pemberantasan korupsi lewat kasus Novel.

''WP KPK tetap meminta Presiden untuk mau membentuk TGPF independen di bawah beliau sebagai komitmen dalam memberantas korupsi di negeri ini sekaligus solusi bahwa satu-satunya cara menghentikan teror kepada KPK adalah menangkap pelaku terornya,'' kata Yudi dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (10/4).

WP KPK memang tetap ngotot mendorong pembentukan TGPF. Sementara Chudry menilai tim khusus bentukan Tito tidak berjalan dan tidak merangkul elemen masyarakat sipil.

Oleh karena itu, Chudry berharap Jokowi, bila nantinya menerbitkan Keppres terkait TGPF, dapat melibatkan sejumlah aktivis dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), masyarakat sipil, dan akademisi selain juga diisi oleh penyidik dari KPK, Kejaksaan Agung, dan pemangku kepentingan lainnya

Chudry juga menyarankan TGPF, bila akhirnya terbentuk, tidak lagi ditugaskan untuk melakukan pencarian fakta, melainkan langsung melakukan proses penegakan hukum hingga berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung guna melakukan proses penuntutan.

''Kalau dia [Jokowi] mau keluarin keppres bentuk tim penyelidikan dan penyidikan, ambil langkah projusticia, itu law enforcement. Proses peradilan pidana,'' ucapnya.

Novel Tunggu Komitmen Capres

Terkait peringatan teror atas dirinya hari ini, Novel mempertanyakan komitmen kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden soal pengungkapan kasus penyerangan terhadap anggota lembaga antirasuah.

''Apakah tidak mau berjanji apakah tidak mau menunjukkan komitmennya atau akan menyampaikan dengan sungguh-sungguh. Saya menjadikan momentum ini untuk mempertanyakan itu, dan ini bukan terkait dengan serangan saya saja, tapi ini serangan kepada kawan-kawan KPK,'' kata Novel saat ditemui usai Salat Subuh berjemaah di masjid dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (11/4).

Novel mengatakan dua tahun kasusnya bergulir ini adalah momentum yang tepat bagi kedua paslon, baik Jokowi-Ma'ruf Amin maupun Prabowo-Sandi. Apalagi, kata dia, saat ini masih dalam masa kampanye dan seharusnya kedua pasangan calon menunjukkan komitmennya. (dri)



DIBACA : 32 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Sabtu, 16 Juli 2016 - 17:06:21 WIB
Suku Bunga Lebih Murah, BRI Tawarkan Program BRIguna untuk PNS
Minggu, 17 Januari 2016 - 21:57:49 WIB
Juga Gratiskan BBNKB
Pemprov Riau Rencanakan Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor
Senin, 01 Februari 2016 - 08:42:09 WIB
Ssstt... Ini Dia Foto Pesta Bawah Tanah Gila-gilaan Pangeran Arab
Minggu, 20 Maret 2016 - 16:08:36 WIB
Harga Gambir Melonjak 2 Kali Lipat Lebih, Petani Sumringah
Kamis, 06 Agustus 2015 - 20:41:49 WIB
Selama jadi Bupati Inhu, Yopi Arianto Sering Bermasalah dengan Hukum
Kamis, 30 Juli 2015 - 16:43:26 WIB
Biadab! Gara-gara Berita soal Moral, Bupati Inhu Tampar Wartawan Senior
Selasa, 04 Agustus 2015 - 12:10:29 WIB
Ini Sosok Sopir Gojek Cantik yang Hebohkan Netizen
Jumat, 03 Agustus 2018 - 11:38:50 WIB
Advertorial
Bupati Wardan Minta Pejabat yang Tak Mampu Bekerja untuk Mundur
Senin, 06 Agustus 2018 - 10:50:51 WIB
Advertorial
Suplay Air Macet, Ini Penjelasan Direktur PDAM Tirta Indragiri ke Bupati Wardan
Senin, 06 Agustus 2018 - 11:07:55 WIB
2 Jemaah Haji Indonesia Dirujuk ke RS Khusus Jantung di Mekah
Jumat, 03 Agustus 2018 - 11:45:19 WIB
Sidik Jari Bermasalah, Calhaj Tertunda Keberangkatannya ke Mekah
Senin, 06 Agustus 2018 - 06:21:14 WIB
Gempa Lombok, Tsunami Kecil Terjadi di Pantai
Jumat, 03 Agustus 2018 - 11:47:46 WIB
Untuk Satu Hal Ini, Bernardeschi Ingin seperti Ronaldo
Sabtu, 04 Agustus 2018 - 10:48:20 WIB
Diberitakan Bersedia Jadi Cawapres, Ini Kata UAS
Sabtu, 04 Agustus 2018 - 10:27:47 WIB
Geliat #SomadEffect Jelang Pilpres 2019
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved