Jum'at, 23 / 08 / 2019
Membersihkan Jiwa dan Membebaskan Kesulitan Manusia Lewat Wukuf di Arafah

| KEAJAIBAN BAITULLAH
Sabtu, 03 September 2016 - 14:14:12 WIB
PADANG ARAFAH, RIAUSATU.COM-Wukuf di Padang Arafah jangan hanya dipahami sebagai ritual fisik
semata. Dalam konteks jiwa, wukuf harus bisa membersihkan hati dari
segala prasangka, dan raga harus terbebas dari segala perbuatan dosa,
sambil terus memaksimalkan jiwa sosial kita.

Profesor Aswadi, Koordinator Konsultan Pembimbing Ibadah Daker Makkah mengajak para jemaah untuk meresapi makna wukuf sedalam-dalamnya. Pastikan saat momen itu, semua konsentrasi tercurah pada introspeksi diri, sehingga usai berhaji, jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

''Wukuf di era modern sekarang tidak hanya sekadar berhenti, tapi kita harus memformat jiwa dan raga kita, menjadi terbebas, terhenti dari tindakan yang tidak berkenan. Harus ditutup rapat-rapat itu dan harus mengabadikan nilai kesucian dari Tuhan,'' pesan Guru Besar UIN Sunan Ampel ini, sebagaimana dilansir detik.com.

Maksud dari memformat adalah membersihkan jiwa dari segala prasangka, perasaan, atau tutur kata buruk. Setelah itu, jiwa yang bersih menuntun kepada aktivitas fisik berupa kegiatan sosial, seperti membantu kesulitan orang, khususnya orang terdekat atau kaum fakir miskin.

Aswadi menambahkan, wukuf di Arafah juga memiliki potensi luar biasa membentuk kesadaran manusia bahwa apa pun ikhtiar yang dilakukan manusia, maka itu masih terbatas oleh kuasa Tuhan. Betapa pun besar keinginan manusia, terkadang digantikan oleh maksud Tuhan yang tak pernah diduga sebelumnya. Bahkan mungkin jauh melebihi ekspektasinya.

''Jadi misalnya kita pernah memberi Rp 1.000 dalam momentum tepat, dia akan teringat untuk selamanya pernah mendapat santunan di saat membutuhkan tak akan henti-hentinya memberikan balasan. Itu pentingnya memberikan sesuatu pada orang yang sangat sulit membutuhkan,'' paparnya.

Selain wukuf, makna berhaji juga sudah jelas disampaikan dalam Al Quran bahwa haji mabrur itu adalah sebuah proses tumbuh kembangnya kebaikan dalam hati, tutur kata yang menyejukkan orang lain, tindakan perilaku yang bukan hanya untuk mementingkan kebutuhan pribadi tapi juga orang lain.

''Termasuk nilai melepaskan himpitan masyarakat secara luas,'' tambahnya.

Inti dari berhaji selain membersihkan jiwa dan raga adalah kegiatan sosial. Ini sesuai dengan urutan ajaran yang dicontohkan nabi dan sesuai rukun Islam. Menurut Aswadi, Nabi Muhamma SAW mengajak umatnya memahami dulu konsep ketauhidan lewat syahadat dan salat. Setelah itu dakwahnya mulai bergeser ke arah fungsi sosial lewat puasa dan zakat dan akhirnya disempurnakan oleh haji.

''Ibadah haji baru dilakukan pada saat Nabi Muhammad hijrah di tahun ke 10. Sebelumnya fokus pada urusan tauhid dulu,'' paparnya.

Di tahun saat Nabi Muhammad SAW berhaji, maka Islam pun disempurnakan. Dari situ, para sahabat sudah menduga bahwa saat semua sudah sempurna, maka akan ada yang hilang. Benar saja, berselang beberapa bulan setelah haji pertama dan terakhirnya, Nabi Muhammad SAW meninggal dunia.

''Hanya sekali itulah nabi melaksanakan ibadah haji,'' ucap Aswadi. (dri)


DIBACA : 790 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved