Kamis, 20 / 09 / 2018
Lebaran Asap

| JENDELA
Kamis, 24 September 2015 - 14:11:54 WIB
MUSIBAH kabut asap, yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan, melanda di saat sebagian besar anggota masyarakat Provinsi Riau dihadapkan dengan beban ekonomi yang berat. Kondisi demikian terjadi menyusul anjloknya harga tandan buah segar sawit, mengikuti harga karet yang sudah jauh lebih dulu terjun bebas.

Dengan harga TBS yang hanya Rp350-Rp400/kg, sementara karet sekitar Rp6.000/kg, jangankan berpikir mendapatkan keuntungan dari hasil usaha perkebunan yang sudah lama menjadi andalan sebagian besar perekonomian masyarakat di daerah ini, bahkan penghasilan yang diperoleh tidak mampu untuk menutupi biaya produksi.

Hasil perkebunan, terutama kelapa sawit, bagi sebagian besar petani di Riau fungsinya tidak sebatas menutupi biaya hidup dan kebutuhan-kebutuhan primer-sekunder lainnya. Terjebak pola hidup konsumerisme, tidak sedikit di antara petani yang memfungsikan hasil kebun untuk menutup sejumlah utang. Buat pembayar cicilan kendaraan sejumlah anggota keluarga, satu misal. Atau buat pembayar utang perabot, dan lain sebagainya.

Ketika hasil kebun tak lagi mampu menutupi biaya produksi, apalagi untuk membayar sejumlah utang, bisa saja ditebak apa yang kemudian terjadi. Ada yang sampai depresi berat. Bahkan ada pula yang melakukan perbuatan berbau pidana. Kesulitan ekonomi memang tidak jarang menyeret seseorang ke kondisi apa yang disebut dengan ''gelap mata.''

Nah, di saat dihadapi dengan kondisi ekonomi yang begitu berat, sebuah persoalan lain datang tanpa diundang: kabut asap. Sebuah kejadian yang sebenarnya di luar kemauan masyarakat itu sendiri, tapi mereka harus ikut merasakan dampaknya. Kalau ada adagium yang mengatakan bahwa si A yang makan cempedak, si B yang kena getahnya; ini malah lebih dari itu: sejumlah orang yang melakukan pembakaran lahan dan hutan, yang menanggung akibatnya justru masyarakat seprovinsi.

Kondisi itu tak hanya dijalani satu atau dua hari, bahkan berbulan-bulan. Hak untuk mendapatkan udara yang bebas, yang merupakan salah satu hak dasar setiap umat manusia, harus terampas oleh sebab-sebab yang sejatinya di luar kemauan dan keinginan sebagian besar masyarakat. Yang lebih susah lagi, apa daya atau kekuatan untuk menolak datangnya kabut asap?

Jawabannya sudah bisa ditebak: tidak ada. Kalau sudah demikian, hiruplah kabut asap yang mengandung sejumlah partikel berbahaya itu saban waktu, bahkan tiap detik dalam rentang waktu 24 jam sehari-semalam. Suka ataupun tidak. Tapi yang ini dijalani bukan dalam hitungan waktu sehari-semalam saja, tapi berbulan-bulan, Bro.

Syukur-syukur daya tahan tubuh cukup mumpuni. Bagi yang tidak, bersiaplah menghadapi aneka penyakit yang bersumber dari udara kotor yang tercemar. Bukan hanya diri sendiri, termasuk juga semua anggota keluarga. Lebih berat lagi bagi yang memiliki bayi di bawah lima tahun, yang tergolong rentan terhadap udara yang tidak sehat.

Hari Raya Idul Adha 1436 Hijriyah pun datang, toh yang namanya kabut asap seakan masih ogah meninggalkan Riau-- terserah, apakah bersumber dari perbuatan karlahut yang dilakukan di dalam daerah, atau kabut asap kiriman dari sejumlah daerah tetangga. Apakah mengorbankan kesehatan, yang bersumber dari kabut asap yang berasal dari karlahut, sebagai sebuah produk perbuatan yang tidak bertanggung jawab, juga bagian dari semangat berkorban yang dibawa oleh Hari Raya Kurban?

Tak tahulah, karena hanya para ahli agama lah yang tahu pasti jawaban terhadap pertanyaan itu. Yang jelas, silakan sejumlah momen dan iven datang silih-berganti, termasuk Idul Adha 1436 H, yang namanya kabut asap sejauh ini ''masih tetap setia'' secara perlahan tapi pasti merusak fundamental kesehatan masyarakat Riau. ***

DIBACA : 1932 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Minggu, 22 November 2015 - 12:38:32 WIB
Memalukan! Massa HMI Makassar Makan Tak Bayar Malah Main Ancam di RM Umega
Sabtu, 16 Juli 2016 - 17:06:21 WIB
Suku Bunga Lebih Murah, BRI Tawarkan Program BRIguna untuk PNS
Minggu, 11 Oktober 2015 - 12:26:15 WIB
Wuuih, Germo DN Pamer Cewek Cantik dan Seksi di Media Sosial
Minggu, 13 September 2015 - 20:27:52 WIB
Malang Nian Nasib Warga Pekanbaru
Gawat! Saat Bencana Asap, Besok PLN Matikan Lampu
Jumat, 28 Agustus 2015 - 21:21:45 WIB
Protes Enam Tersangka Lain Bebas Berkeliaran
Korupsi Dana Bansos Bengkalis, Jamal Minta Polisi Tahan Herliyan Saleh Dkk
Minggu, 17 Januari 2016 - 21:57:49 WIB
Juga Gratiskan BBNKB
Pemprov Riau Rencanakan Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor
Minggu, 20 Maret 2016 - 16:08:36 WIB
Harga Gambir Melonjak 2 Kali Lipat Lebih, Petani Sumringah
Kamis, 06 Agustus 2015 - 20:41:49 WIB
Selama jadi Bupati Inhu, Yopi Arianto Sering Bermasalah dengan Hukum
Senin, 01 Februari 2016 - 08:42:09 WIB
Ssstt... Ini Dia Foto Pesta Bawah Tanah Gila-gilaan Pangeran Arab
Sabtu, 10 Oktober 2015 - 14:47:08 WIB
Kisah 'Anak-anak Asuh' Germo DN yang Bergelimang Kemewahan
Kamis, 30 Juli 2015 - 16:43:26 WIB
Biadab! Gara-gara Berita soal Moral, Bupati Inhu Tampar Wartawan Senior
Jumat, 09 Oktober 2015 - 21:29:07 WIB
Jokowi ke Kampar, Aksi ''Tangkap Jefry Noer'' Ricuh, Pendemo Pingsan Dipukuli
Selasa, 04 Agustus 2015 - 12:10:29 WIB
Ini Sosok Sopir Gojek Cantik yang Hebohkan Netizen
Minggu, 25 Oktober 2015 - 19:21:28 WIB
Tabrakan Beruntun di Jalan Dumai-Duri, 3 Tewas di Tempat
Jumat, 16 Oktober 2015 - 15:55:17 WIB
Perkantoran Tenayan Raya; Merangkai Pemerataan di Negeri Kota Bertuah
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved