Selasa, 19 / November / 2019
SAH, KAMI JADI ''MANUSIA SALAI''

| JENDELA
Selasa, 24 September 2019 - 10:28:26 WIB
SAATNYA, hari ini. Suka atau tidak suka. Setuju atau tidak setuju. Kita mendeklarasikan diri sebagai “manusia yang paling baik hati di seantaro jagad.” Manusia yang menerima apa saja yang menimpa kita. Tanpa reaksi. Tanpa reserve. Tanpa hiruk-pikuk, kegaduhan, dan kehebohan. Apatah lagi, perlawanan.

Kita telan bulat-bulat semua kabut asap yang berterbangan di atmosfir Riau. Sejak pagi, siang, sore, malam, bahkan berlanjut sampai dinihari. Kita masukkan semua partikel eks kebakaran hutan dan lahan ke semua rongga di tubuh kita. Lalu, menjalar masuk ke dalam paru-paru. Mengendap di sana. Berkecambah. Dan sesudah itu, tidak tahulah apa yang akan terjadi kelak.

Karena kita sebagai “manusia yang paling baik hati di seantaro jagad,” maka kita anggap semua itu sebagai bagian dari romantika hidup. Terkadang susah. Terkadang senang. Kendati sejatinya kita menyadari bukan kita sebagai penyebab kondisi ini. Tapi lantaran predikat sebagai “manusia yang paling baik hati di seantaro jagad”, untuk apa pula dipersoalkan?

Saatnya pula hari ini. Suka atau tidak suka. Setuju atau tidak setuju. Kita mendeklarasikan diri sebagai “manusia salai.” Dipanggang oleh suhu udara di Riau yang rata-rata di atas suhu udara banyak daerah lainnya di Indonesia. Diasapi oleh kabut asap selama 24 jam sehari-semalam mencabik-cabik hasrat kita untuk mendapatkan udara bersih dan sehat. Jauh dari partikel-partikel yang membahayakan kesehatan.

Sepertinya, kita tidak menjadi “penikmat  tunggal” dari drama kehidupan yang sangat menyiksa dan menyayat kalbu ini. Ada anak-anak kita, buah hati, dan harapan masa depan kita. Tempat kita mencurahkan segala kasih dan sayang. Tempat kita berbagi suka dan suka. Sama dengan kita. Mereka juga menelan semua anasir jahat yang merasuk ke dalam tubuh mereka. Suka atau tidak suka.

Juga ada saudara-saudara, kerabat, famili, dan handai-taulan. Dan mungkin, ayah dan ibu kita. Termasuk juga kakek dan nenek kita, yang sudah sejak lama batuk-batuk. Dan penyakit batuknya kian menjadi-jadi, karena setiap saat tubuhnya direcoki oleh udara membahayakan. Kita dan mereka sama: berada dalam satu lingkaran azab yang amat mendera dan menyiksa.

Bertambah hari keadaan bukannya membaik, malah bertambah parah. Sudah sulit membedakan antara siang dan malam. Saking pekatnya langit oleh kabut asap produk karhutla. Di mana-mana di Riau, dan kapan pun. Yang terpapar hanyalah jejalan kabut asap, menggantung di atmosfir. Lalu merasuk ke dalam rumah, kantor-kantor, untuk menyiksa semua penghuni yang berada di dalamnya.

Lihatlah di hampir semua pusat pelayanan kesehatan di daerah ini. Ramai orang mendatanginya untuk mendapatkan penanganan medis. Sakit akibat gangguan pernapasan terdera kabut asap. Boleh jadi pemerintah menggratiskan biaya pengobatan karena dampak kabut asap. Tapi coba bayangkan, kalau yang kena adalah masyarakat miskin. Sudahlah sulit mencari rezeki untuk biaya bertahan hidup, diparparah lagi deraan penyakit.

Lihatlah sekolah-sekolah seperti kuburan, karena para muridnya diliburkan lagi-lagi lantaran kabut asap karhutla. Hari-hari yang seyogianya dilalui anak-anak di bangku sekolah untuk mendapatkan bekal buat kehidupan yang lebih baik, kini anak-anak yang sebelumnya meramaikan sekolah-sekolah itu terpaksa menjalani “pingitan”, yang entah kapan berakhirnya.
 
Kita hari ini –dan bahkan mungkin sudah sejak lama—menyadari bahwa kita tidak lagi menjadi “pemilik” bagi diri kita sendiri. Apa-apa yang seharusnya menjadi hak dasar kita sebagai manusia, termasuk hak untuk memperoleh udara yang sehat, tidak lagi dengan mudah didapatkan. Malah, yang menyerbu adalah udara dengan kualitas yang sangat buruk. Buah perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dihadapkan dengan kondisi seperti itu, kadang timbul pertanyaan: hai para pemilik otoritas dan pemangku kepentingan, sedang berada di manakah kalian gerangan? Apa saja yang telah kalian lakukan untuk menghentikan azab yang seakan tidak berujung dan bertepi ini? Sampai kapan kami, yang sejatinya rakyat kalian, dibiarkan berlarut-larut dalam kondisi yang amat menyiksa dan mendera ini?

Entahlah!***

Novrizon Burman,
Pemimpin Redaksi Riausatu.com

DIBACA : 150 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved