Sabtu, 21 / 09 / 2019
KAMI (BUKAN) MANUSIA SALAI

| JENDELA
Jumat, 06 September 2019 - 22:52:50 WIB
Novrizon Burman.
TERKAIT:
TAHU dengan salai 'kan? Merujuk KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), ikan salai adalah ikan yang dikeringkan di atas api. Dipanggang, dan diasapi. Dalam dunia kuliner, ikan salai jenis makanan banyak peminatnya. Gurih, lezat, garing, dan –ehem—disertai aroma yang menusuk hidung.

Tapi, siapa yang mau jadi “manusia salai? Tidak Anda. Apalagi saya. Dan juga, lima juta penduduk Provinsi Riau, yang tersebar di berbagai kota dan daerah, di berbagai tempat dan kawasan. Yang berasal dari berbagai etnis dan latar belakang adat dan budaya, dengan status sosial dan kemampuan ekonomi berbeda-beda. Dan, dengan tingkat pendidikan beragam pula.

Tapi menjadi “manusia salai” bagi penduduk Riau hari ini –dan telah berlangsung lebih dari dua bulan—seperti sudah menjadi sebuah keharusan, keniscayaan, tak terelakkan. Siapa pun Anda, apapun jabatan dan  status sosial Anda. Asal bermukim dan menjalani hari-hari di Riau, tanggunglah derita ini. Dikepung kabut asap saban hari. Pagi atau siang, sore atau malam. Dinihari sekali pun.

Kabut asap yang rutin kita “konsumsi” merupakan jenis polusi udara yang dihasilkan dari campuran beberapa gas dan partikel, yang bereaksi dengan sinar matahari. Gas-gas yang terlibat dalam proses ini adalah karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO2), sulfur oksida (SO2), senyawa organik volatil (VOC), dan ozon. Sementara itu, partikel-partikel yang terdapat dalam kabut asap adalah asap, debu, pasir, dan serbuk sari.

Terdapat sejumlah efek jangka pendek akibat tinggal di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk, seperti kabut asap. Antara lain, susah bernapas dan kerusakan paru-paru, batuk dan iritasi tenggorokan, memperburuk gejala penyakit paru-paru, berdampak kepada fungsi jantung, buruk untuk kesehatan mata, berisiko terkena kanker paru-paru, berdampak pada kulit, dan lainnya.

Apalagi yang menjadi biangnya kalau bukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)—yang menurut pemegang otoritas 99 persen di antaranya disebabkan ulah manusia. Itu artinya, orang lain berbuat –antara lain untuk kepentingan perluasan areal perkebunannya— kita menanggungkan akibatnya. Termasuk isteri dan anak-anak, serta semua orang terdekat kita.

Oleh karena karhutla yang berbuntut menjadi kabut asap, kita seakan dipaksa keadaan untuk menjadi seperti disalai. Akibat kabut asap yang menerjang terus-menerus tanpa batas waktu. Pun oleh kondisi udara Riau yang memang panas, terlebih musim kemarau belakangan ini. Sepertinya, kenyamaman –apalagi bila bicara soal pemeliharaan kesehatan— sebagai sesuatu yang dirasakan “mahal.”

Sulit kita menjawab, kenapa kasus ini seakan tidak pernah terselesaikan secara komprehensif. Padahal, pernah berlangsung selama belasan tahun. Beberapa tahun belakangan, Riau bisa sedikit bebas dari kabut asap. Masyarakat menikmati udara dengan kualitas bagus. Kenapa tidak belajar dari kesuksesan masa lalu itu?

Sudahlah. Biarkan itu menjadi kompetensi pemegang otoritas, baik di daerah maupun di pusat. Untuk mencari jawabnya. Tapi sebagai warga daerah, kita kemukakan itu karena merasa punya hak untuk mendapatkan udara dengan kualitas sesuai standar kesehatan. Kita juga tak menginginkan anak-anak kita, kelak menanggung jenis penyakit tertentu. Bersebab relatif lama menghirup udara tidak sehat sejak kecil.

Kita tentu menolak menghirup udara berwarna kecokelatan, disertai debu-debu sisa karhutla yang hampir memenuhi semua ruang di Riau. Menggantung, bergelayut, dan berarak-arakan di atmosfir. Memasuki semua celah yang ada. Menyelusup masuk melalui ventilasi rumah-rumah penduduk. Seberapa kuat daya tahan tubuh kita, bila terus menerus mendapat "serangan" seperti itu?

                                                               ***

Hari ini, Jumat (6/9/2019), kita seakan makin “menyempurnakan” diri menjadi manusia salai. Berharap membaik, malah yang terjadi adalah kondisi yang semakin parah. Berharap ada perubahan, yang kita saksikan tidak lain adalah kemunduran. Tidak tahulah, kapan “drama” tidak memikat ini akan berakhir.

Karena siang hari tadi, udara di Kota Pekanbaru kembali pada kondisi tidak sehat. Begitu juga kualitas udara di sejumlah daerah di Riau. Hal ini terpantau dari situs BMKG, untuk kualitas udara (PM10) sudah mencapai 166,6. Ini menandakan masuk dalam kategori tidak sehat. Kondisi tidak sehat ini, sebenarnya sempat terjadi beberapa waktu lalu. Namun diguyur hujan lebat, udara kembali segar.

Pada Jumat siang tadi, asap yang muncul sejak pagi, semakin tebal. Bahkan, saat keluar ruangan sudah mulai terasa sesak. Bau asap, terasa di pernafasan. 

Tadi pagi, berdasarkan pantauan satelit yang dirilis BMKG Stasiun Pekanbaru, jumlah hotspot di Riau kembali menggila, mencapai 123 titik. Titik panas terbanyak, terpantau di Kabupaten Indragiri Hilir 40 titik, Indragiri Hulu 34 titik, Pelalawan 34 titik, Meranti delapan titik, Rokan Hilir tiga titik, Kuansing dua titik, Bengkalis dan Kampar masing-masing satu titik.

Ruang hidup –termasuk ruang mencari nafkah— kita yang bermukim di Riau, terasa semakin menyempit. Ruang mendapatkan hak-hak bermain, hak pendidikan yang layak, hak hidup sehat tanpa ancaman dari kabut asap yang tidak sehat, kian terasa sulit didapatkan anak-anak kita –yang sejatinya memegang posisi sebagai generasi penerus bangsa.

Sebagian besar dari kita, tentu sulit lari dari kenyataan, misalnya dengan cara mengungsi ke daerah yang terbebas dari kabut asap. Kita pun, saya dan Anda, tentu masih sayang dengan Riau. Daerah yang menjadi tumpah darah dan gantungan masa depan kita. Tapi, seiring dengan itu, kita juga tidak mau keterusan menjadi “manusia salai.” Intinya, kita tidak mau “disiksa” oleh peristiwa yang sejatinya, bukan karena ulah kita.

Tapi, kapan?***

Novrizon Burman
Pemimpin Redaksi Riausatu.com

DIBACA : 158 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved