Minggu, 25 / 08 / 2019
JEREBU KEMBALI MENGHANTUI

| JENDELA
Senin, 05 Agustus 2019 - 21:54:06 WIB
KEGUBERNURAN H. Arsyadjuliandi Rachman MBA di Provinsi Riau pada 2018, berakhir dengan sangat manis. Mampu menekan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penyebab jerebu atau kabut asap sampai pada titik terendah. Sejumlah penghargaan pun direbut Riau.

Penghargaan itu, mungkin hanya menyangkut prestise atau gengsi sebuah rezim. Yang paling bermanfaat bagi masyarakat dari keberhasilan itu adalah, kembali menikmati langit biru dan cerah, bebas dari kepungan kabut asap. Aktivitas di berbagai bidang kehidupan, kembali berdenyut normal. Anak-anak bisa sekolah. Kegiatan di bandara dan pelabuhan, berjalan lancar, dan tidak terlihat orang-orang memakai masker.

Pantas saja masyarakat di Riau saat itu, mensyukuri kondisi yang terjadi. Padahal, sebelumnya hampir 17 tahun, masyarakat Riau dihantui bencana kabut asap. Begitu masuk musim kemarau, yang terbayang kemudian adalah ancaman polusi udara yang bersumber dari kabut asap. Sejumlah negara jiran tak ketinggalan, komplain terhadap “produk” Riau yang tak wajar itu.

Tapi, kala itu bencana berhasil diakhiri. Kendati tidak tuntas-tuntas amat, tapi keberhasilan penanganan karhutla saat itu sudah sampai pada titik yang dinilai paling maksimal. Dan, melegakan banyak pihak.

Realitas di atas, setidaknya mengindikasikan satu hal: pada dasarnya karhutla yang menjadi biang kabut asap bisa ditangani. Karena sejatinya, sebagian besar karhutla disebabkan ulah manusia. Upaya sungguh-sungguh dan sepenuh hati untuk menangani persoalan satu ini, akhirnya bisa berbuah manis. Masyarakat Riau, telah merasakan dan membuktikannya selama tiga tahun, yakni 2016, 2017, dan 2018.

Tapi “cerita indah” di tiga tahun terakhir, sepertinya tidak terulang di 2019. Memasuki musim kemarau tahun ini, “kaji lama” seakan terulang kembali: Riau dikepung oleh kabut asap. Udara jernih yang sejatinya menjadi hak dasar setiap masyarakat, mulai dirasakan sebagai sesuatu yang mahal menyusul hampir semua kabupaten/kota di Riau dilanda karhutla yang memunculkan kabut asap.

Sebuah portal pemberitaan nasional pun, dalam sebuah judul beritanya, menulis: “1 Juta Penduduk Pekanbaru Terpapar Asap Karhutla.” Sejumlah daerah di Riau kemudian seakan berlomba menetapkan status siaga karhutla untuk daerah mereka masing-masing. Jeritan yang menyiratkan masyarakat sangat terganggu dengan kabut asap kembali, terdengar sahut-bersahut, sambung-bersambung. Jerebu kembali menghantui.

Sesuatu yang pada tempatnya, memang. Karena mendapatkan udara yang segar, yang jauh dari partikel-partikel yang membahayakan kesehatan, merupakan hak dasar setiap anggota masyarakat. Masyarakat, siapa pun mereka, dipastikan tidak bisa menerima udara dengan kualitas sangat buruk. Apatah lagi, penyebabnya bukan mereka, melainkan oleh ulah orang lain. Terlalu banyak, yang mesti dipertaruhkan soal satu ini.

Termasuk hak untuk tidak terganggu melakukan sejumlah aktivitas, aktivitas yang tesangkut erat untuk kelangsungan hidup. Ketika kondisi perekonomian semakin berat dirasakan oleh sebagian masyarakat, dipastikan tidak ada anggota masyarakat yang menginginkan kegiatannya mencari nafkah penghidupan terganggu. Apalagi, gangguan itu tidak datang dari diri mereka sendiri.

Sekali lagi, merujuk kasus di tiga tahun terakhir, pada saat Riau sejenak melupakan gangguan kabut asap; sejatinya karhutla di Riau bisa ditanggulangi. Kendati tidak sampai ke akar-akarnya, setidaknya menyentuh titik terendah. Memungkinkan masyarakat menikmati udara bersih, bebas dari partikel-partikel membahayakan kesehatan.***

DIBACA : 746 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved