Kamis, 24 / Mei / 2018
Antara Mimpi dan Realitas

| JENDELA
Selasa, 13 Maret 2018 - 09:54:34 WIB
HARI-hari belakangan kita dihadapkan pada “tontonan” menarik: sejumlah orang memproklamirkan dirinya sebagai individu yang memihak rakyat, yang pro-reformasi, yang mengerti denyut nadi masyarakat bawah, yang peduli dengan kaum dhuafa, yang punya atensi terhadap pendidikan, yang prihatin terhadap kalangan tertindas, yang siap memperjuangkan kesejahteraan bagi semua.

Lihatlah di tiang listrik, di pohon-pohon, di persimpangan jalan, bahkan di dinding bus angkutan umum dan mobil pribadi; sejumlah orang (baca: calon kepala daerah) sudah memastikan diri sebagai pribadi yang siap berkorban dan melakukan apa saja untuk rakyat. Melalui media berupa spanduk, baliho, kartu nama, kalender, dan lainnya; telah tampil sejumlah orang yang siap memosisikan dirinya sebagai pemimpin di tengah masyarakat.

Pemimpin yang akan memberikan yang terbaik untuk masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang punya sejumlah agenda besar, antara lain memperjuangkan kesejahteraan bagi semua, yang akan memurahkan biaya pendidikan, yang akan menekan angka pengangguran, yang akan menciptakan kondisi aman dan tenang bagi pedagang kecil dalam mengais rezeki, dan lain sebagainya.

Kita, sebagai anggota masyarakat yang tetap memilih berada dalam posisi dipimpin, ternyata masih punya sejumlah orang yang peduli dengan kita, dengan nasib kita, dan dengan masa depan kita. Di tengah beratnya tekanan ekonomi yang mesti dihadapi belakangan ini, rupanya kita masih memiliki banyak stok orang yang akan berjuang keras untuk membuat kondisi lebih baik.

Hati pun menjadi “berbunga-bunga” karena terbuai mimpi indah tentang hari esok yang lebih baik dari hari ini, buah kerja keras orang-orang yang memproklamirkan dirinya sebagai calon pemimpin yang terbaik untuk masyarakat itu. Kita pun membayangkan tentang terbukanya peluang dan kesempatan berusaha yang luas, dan kondisi yang kondusif untuk menggerakkan roda ekonomi.

Kita membayangkan tentang penghasilan yang memadai, dan barang-barang kebutuhan yang gampang dibeli karena mudah didapatkan dengan tingkat harga yang terjangkau. Kita membayangkan anak-anak yang bersekolah dengan layak karena biaya pendidikan yang relatif murah dengan mutu yang bisa dibanggakan. Kita membayangkan memiliki tempat berteduh yang layak, bukan ngontrak sampai ubanan karena ketiadaan dana dan daya untuk membangun rumah hunian yang layak.

Kita membayangkan tentang layanan kesehatan murah dan berkualitas karena pemimpin yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat yang dipimpinnya. Kita takkan menghadapi kasus membiarkan si sakit menunggu ajal di rumah karena pusat pelayanan kesehatan  menolak melakukan rawatan lantaran ketidakmampuan kita menyediakan uang pangkal biaya perawatan yang mahal.

Kita juga tidak akan melihat lagi ibu-ibu separoh baya lari terbirit-birit sambil menenteng barang dagangannya karena dikejar petugas lantaran menuduh si ibu merusak ketertiban umum. Kita juga tidak akan melihat lagi seorang ibu tua sampai hati menggeletakkan anaknya yang penyakitan di jembatan penyeberangan hanya berharap tergeraknya hati orang-orang yang lewat untuk mengulurkan recehan.

Kita diyakini tak akan pernah lagi mendengar cerita tentang seorang gadis yang terpaksa menjual kegadisannya untuk melepaskan sang bapak dari lilitan utang. Tentang anak-anak usia sekolah yang bergelayutan di bus kota, menyanyikan satu-dua potong lagu lalu meminta kompensasi ke para penumpang untuk suaranya yang sumbang bak kaleng pecah, diyakini akan menjadi bagian dari masa lalu.

Hidup terasa indah, nyaman, tenang, berkepastian, karena sudah tampil sejumlah orang yang akan melakukan apa saja untuk kita. Takkan ada lagi pertengkaran mulut dengan petugas keamanan lingkungan lantaran ketidakmampuan kita menyediakan uang ronda yang cuma Rp10.000/bulan. Tak ada urusan dengan para rentenir berkedok pahlawan karena penghasilan yang diterima tak harus membuat kita “bernafas ke luar badan.”

Sayang, semua itu sering hanya tertinggal di bingkai mimpi. Manakala terbangun di pagi hari, kita kembali dihadapkan pada realitas rutin: beban hidup semakin berat di saat angka penghasilan yang tak bergerak naik. Sejumlah orang yang dulu  mengkoarkan akan memperjuangkan yang terbaik untuk itu, dengan pongah berlalu-lalang di depan mata, saban hari, dan hanya meninggalkan asap mobilnya dengan bau menusuk hidung.***

DIBACA : 252 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Minggu, 22 November 2015 - 12:38:32 WIB
Memalukan! Massa HMI Makassar Makan Tak Bayar Malah Main Ancam di RM Umega
Sabtu, 16 Juli 2016 - 17:06:21 WIB
Suku Bunga Lebih Murah, BRI Tawarkan Program BRIguna untuk PNS
Minggu, 11 Oktober 2015 - 12:26:15 WIB
Wuuih, Germo DN Pamer Cewek Cantik dan Seksi di Media Sosial
Minggu, 13 September 2015 - 20:27:52 WIB
Malang Nian Nasib Warga Pekanbaru
Gawat! Saat Bencana Asap, Besok PLN Matikan Lampu
Jumat, 28 Agustus 2015 - 21:21:45 WIB
Protes Enam Tersangka Lain Bebas Berkeliaran
Korupsi Dana Bansos Bengkalis, Jamal Minta Polisi Tahan Herliyan Saleh Dkk
Minggu, 17 Januari 2016 - 21:57:49 WIB
Juga Gratiskan BBNKB
Pemprov Riau Rencanakan Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor
Minggu, 20 Maret 2016 - 16:08:36 WIB
Harga Gambir Melonjak 2 Kali Lipat Lebih, Petani Sumringah
Kamis, 06 Agustus 2015 - 20:41:49 WIB
Selama jadi Bupati Inhu, Yopi Arianto Sering Bermasalah dengan Hukum
Senin, 01 Februari 2016 - 08:42:09 WIB
Ssstt... Ini Dia Foto Pesta Bawah Tanah Gila-gilaan Pangeran Arab
Sabtu, 10 Oktober 2015 - 14:47:08 WIB
Kisah 'Anak-anak Asuh' Germo DN yang Bergelimang Kemewahan
Kamis, 30 Juli 2015 - 16:43:26 WIB
Biadab! Gara-gara Berita soal Moral, Bupati Inhu Tampar Wartawan Senior
Jumat, 09 Oktober 2015 - 21:29:07 WIB
Jokowi ke Kampar, Aksi ''Tangkap Jefry Noer'' Ricuh, Pendemo Pingsan Dipukuli
Selasa, 04 Agustus 2015 - 12:10:29 WIB
Ini Sosok Sopir Gojek Cantik yang Hebohkan Netizen
Minggu, 25 Oktober 2015 - 19:21:28 WIB
Tabrakan Beruntun di Jalan Dumai-Duri, 3 Tewas di Tempat
Jumat, 16 Oktober 2015 - 15:55:17 WIB
Perkantoran Tenayan Raya; Merangkai Pemerataan di Negeri Kota Bertuah
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved