Jum'at, 22 / Juni / 2018
Habis Asap, Datanglah Banjir

| JENDELA
Selasa, 19 Januari 2016 - 13:51:58 WIB
MUSIBAH itu seakan tak putus-putusnya. Usai bencana yang satu, seakan sudah antre bencana yang lain-- yang sebagian besar di antaranya bersumber dari ulah manusia. Baru saja Provinsi Riau agak relatif aman dari kabut asap yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan, jenis bencana baru sudah mulai pula menghampiri: banjir.

Pangkal penyebabnya mudah direka, yaitu curah hujan yang tinggi sejak beberapa bulan belakangan ini. Tapi kondisi dipastikan tidak seperti separah yang dialami oleh sebagian besar korban banjir di daerah ini kalau tidak ditambah oleh penyebab lain, yaitu praktek penebangan hutan, baik yang dilakukan dengan bekal izin dari instansi berwenang, ataupun yang dilakukan secara melawan hukum.

Maka, terjadilah apa yang seharusnya tak perlu terjadi atau dialami oleh masyarakat. Ketika fokus pikiran sebagian besar anggota masyarakat diarahkan untuk menata kehidupan, atau untuk tujuan-tujuan lain yang dinilai lebih urgen dan mendesak; pada saat bersamaan pikiran harus dibagi bagaimana upaya menghadapi banjir, dan mengeliminir berbagai dampak ikutan yang disebabkannya.

Persoalan menjadi tidak sederhana bila hal-hal semacam itu harus dihadapi oleh anggota masyarakat kelas bawah. Ketika harta benda mereka yang mungkin tak seberapa menjadi rusak atau tak lagi bisa digunakan bersebab dihantam dan direndam banjir, pada saat bersamaan tidak sedikit di antara mereka dipaksa pula oleh keadaan untuk kehilangan hari-hari.

Waktu hari ke hari yang seyogianya bisa dimanfaatkan buat mencari nafkah, dimaksudkan untuk menutup aneka kebutuhan keluarga yang tak bisa dielakkan; terpaksa harus direlakan berlalu dan terbuang percuma, lagi-lagi karena harus menghadapi banjir dan aneka dampak ikutan yang ditimbulkannya.

Padahal, apalah salah dan dosa mereka dalam konteks persoalan semacam ini? Manalah mereka punya kekuatan modal untuk menebangi batang demi batang kayu di hutan, yang menjadi pemicu datangnya banjir dan air bah. Jangankan memiliki sumber daya yang cukup untuk mengekspoitasi hutan, terkadang --bahkan mungkin sering-- untuk menutupi kebutuhan dasar keluarga saja mereka sudah sering kelabakan.

Kalaupun ada di antara kalangan itu yang terlibat secara langsung dalam praktek penebangan hutan, baik secara legal maupun ilegal, paling banter peran mereka hanya sebagai kuli kasar; yang hasilnya bisa dipastikan tidak akan pernah lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dasar, dengan segala risiko dan kondisi yang harus mereka tanggung dan hadapi.

Hidup sering kali berlaku tidak adil, dan ketidakadilan jamak dirasakan oleh mereka yang tidak memiliki kemampuan di banyak bidang. Ibarat orang lain yang makan cempedak, kita yang memakan getahnya. Ketika para pemodal menikmati keuntungan yang besar dari kegiatan penebangan kayu di hutan, yang sering merasakan dampak tak elok dari perbuatan itu justru mereka yang tak berbuat sama sekali, apalagi mendapat keuntungan besar dari kegiatan perambahan hutan.

Negara seyogianya hadir memberi solusi, atau persisnya melindungi hak-hak masyarakat, dimaksudkan agar peristiwa serupa tidak terjadi secara berkesinambungan, dari tahun ke tahun, dari masa ke masa. Agar daftar jumlah korban tak semakin panjang saja hanya karena si A yang berbuat, sementara yang menanggung akibatnya mulai dari si B sampai ke si Z.

Tapi hukum, yang seyogianya menjadi alat bagi penguasa untuk menjalankan dan menata kehidupan berbangsa dan bernegara, sering kali berperilaku secara ironi: tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Kalau sudah demikian, bila tiap datang musim penghujan, siap-siaplah kawasan tempat Anda bermukim diluluhlantakkan oleh banjir. Mungkin belum tahun sekarang, tapi beberapa tahun ke depan. Tak perlu benar soal itu, karena hanya tersangkut dengan persoalan waktu.***
DIBACA : 1698 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Minggu, 22 November 2015 - 12:38:32 WIB
Memalukan! Massa HMI Makassar Makan Tak Bayar Malah Main Ancam di RM Umega
Sabtu, 16 Juli 2016 - 17:06:21 WIB
Suku Bunga Lebih Murah, BRI Tawarkan Program BRIguna untuk PNS
Minggu, 11 Oktober 2015 - 12:26:15 WIB
Wuuih, Germo DN Pamer Cewek Cantik dan Seksi di Media Sosial
Minggu, 13 September 2015 - 20:27:52 WIB
Malang Nian Nasib Warga Pekanbaru
Gawat! Saat Bencana Asap, Besok PLN Matikan Lampu
Jumat, 28 Agustus 2015 - 21:21:45 WIB
Protes Enam Tersangka Lain Bebas Berkeliaran
Korupsi Dana Bansos Bengkalis, Jamal Minta Polisi Tahan Herliyan Saleh Dkk
Minggu, 17 Januari 2016 - 21:57:49 WIB
Juga Gratiskan BBNKB
Pemprov Riau Rencanakan Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor
Minggu, 20 Maret 2016 - 16:08:36 WIB
Harga Gambir Melonjak 2 Kali Lipat Lebih, Petani Sumringah
Kamis, 06 Agustus 2015 - 20:41:49 WIB
Selama jadi Bupati Inhu, Yopi Arianto Sering Bermasalah dengan Hukum
Senin, 01 Februari 2016 - 08:42:09 WIB
Ssstt... Ini Dia Foto Pesta Bawah Tanah Gila-gilaan Pangeran Arab
Sabtu, 10 Oktober 2015 - 14:47:08 WIB
Kisah 'Anak-anak Asuh' Germo DN yang Bergelimang Kemewahan
Kamis, 30 Juli 2015 - 16:43:26 WIB
Biadab! Gara-gara Berita soal Moral, Bupati Inhu Tampar Wartawan Senior
Jumat, 09 Oktober 2015 - 21:29:07 WIB
Jokowi ke Kampar, Aksi ''Tangkap Jefry Noer'' Ricuh, Pendemo Pingsan Dipukuli
Selasa, 04 Agustus 2015 - 12:10:29 WIB
Ini Sosok Sopir Gojek Cantik yang Hebohkan Netizen
Minggu, 25 Oktober 2015 - 19:21:28 WIB
Tabrakan Beruntun di Jalan Dumai-Duri, 3 Tewas di Tempat
Jumat, 16 Oktober 2015 - 15:55:17 WIB
Perkantoran Tenayan Raya; Merangkai Pemerataan di Negeri Kota Bertuah
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved