Jumat, 24 Mei 2013 - 21:31:51 WIB
LE, Pilihan Terbaik untuk Riau
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Politik - Dibaca: 139 kali


KAMPAR, RIAUSATU.com - Seumlah  nama mengapung dalam bursa kandidat calon Gubernur dan Wakil Gubernur Riau periode 2013-2018, yang akan dipilih melalui ajang Pilgub (Pemilihan Gubernur) Riau 2013 September mendatang. Tapi, siapakah di antara nama-nama yang mengapung itu, yang dinilai mampu menjawab tantangan Riau hari ini dan ke depan?

Dalam pandangan Purwaji S.Sos., Wakil Ketua DPW PKB (Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa) Provinsi Riau, di antara nama-nama yang muncul itu, pihaknya lebih menjagokan HM Lukman Edy untuk memimpin Riau ke depan, karena memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki kandidat atau bakal kandidat lainnya.

“Coba, apa ada di antara  kandidat atau bakal kandidat yang muncul itu, yang pernah menduduki kursi sebagai menteri di kabinet?” tanya Purwaji saat memberi sambutan dalam haul (peringatan hari jadi) ke-4 Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama Madinatul Ulum Al-Ishlah di Desa Bina Baru, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar, Kamis (23/5).

“Paling banter sejumlah nama yang muncul di bursa kandidat tersebut, pengalamannya hanya sampai menjabat bupati atau wali kota,” tambah anggota DPRD Kabupaten Kampar itu. “Tapi Pak Lukman pernah dipercaya menjadi menteri, dan hebatnya lagi di zamannya Pak Lukman merupakan menteri termuda di kabinet,” sambung Purwaji.

Karena pos yang dipercayakan kepada LE –begitu Lukman Edy akrab disapa—adalah Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal di KIB (Kabinet Indonesia Bersatu) Jilid I, menurut Purwaji, jabatan yang pernah diemban LE itu memiliki kesesuaian dengan kondisi Riau hari ini. Yaitu, beber Purwaji, kendati dikenal daerah kaya, tapi sejumlah daerah di Riau masih termasuk ke dalam katergori kawasan tertinggal.

Purwaji menceritakan pengalamannya bersama LE mengunjungi sebuah desa di Kabupaten Pelalawan, beberapa waktu lalu. Dikatakan, saat itu pihaknya menemukan sebuah desa yang sama sekali tidak memiliki akses  ke dunia luar alias tidak memiliki infrastruktur dasar berupa jalan dan jembatan yang memudahkan masyarakat setempat berhubungan dengan dunia luar.

Ia yakin, selain desa di Pelalawan itu, masih ada sejumlah desa lain di Riau yang mengalami kondisi serupa. “Nah, karena Pak Lukman telah memiliki pengalaman menangani kawasan-kawasan yang termasuk kategori tertinggal, apa salahnya beliau diberi amanah memimpin Riau agar tidak ada lagi kawasan tertinggal di daerah ini,” imbuhnya.

Kondisi sejumlah kawasan di Riau yang masih terkategori tertinggal, sebut Purwaji, juga menuntut hadirnya pemimpin yang memiliki energi dan vitalitas tinggi untuk mampu mengunjungi kawasan itu secara langsung. “Nah, di antara sejumlah bakal kandidat yang muncul di bursa Pilgub Riau 2013, Pak Lukman merupakan sosok yang termuda,” ia menambahkan.

Dilahirkan di Teluk Pinang, Kabupaten Indragiri Hilir, pada 26 November 1970, saat ini usia LE baru 42 tahun, sementara jabatan Menteri PPDT yang pernah diembannya, dijalankan LE pada usia sekitar 37 tahun. “Kendati masih muda, saya berani memastikan Pak Lukman merupakan sosok yang matang dengan pengalaman,” tandas Purwaji.

Dana Rp2 M/Desa
Selain karena sejumlah keunggulan pribadi yang dimiliki LE, menurut Purwaji, PKB memutuskan mengusung sosok itu juga dengan didasarkan  pertimbangan-pertimbangan yang sangat matang. “Semuanya kita abdikan untuk kepentingan daerah dan buat kepentingan seluruh masyarakat Provinsi Riau,” kata mantan wartawan itu.

Purwaji juga menceritakan bahwa LE  telah berkomitmen dengan PKB sebagai partai pengusung utama untuk merealisasikan sejumlah program yang memihak kepada kepentingan daerah dan masyarakat, kelak kalau terpilih sebagai Gubernur Riau. “Ya,  kita di pihak telah membuat semacam kontrak politik dengan beliau, yang diabdikan untuk daerah dan masyarakat,” tandasnya.

Salah satu program  andalan LE, menurut Purwaji, adalah mengalokasikan dana masing-masing Rp2 miliar/desa untuk tiap tahun anggaran yang diambilkan dari APBD Riau. “Dengan alokasi dana sebesar itu, maka masing-masing desa akan semakin leluasa melaksanakan program-program yang dinilai sangat dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat,” katanya.

Program itu, sambung Purwaji, juga akan menekan kemungkinan aparat dan masyarakat desa meminta kesana-kesini untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar yang diperlukan desanya. “Padahal, apa yang diajukan hari ini melalui proposal ke berbagai instansi terkait, mungkin saja baru dikabulkan 2-3 tahun ke depan, atau bisa jadi tidak dikabulkan sama sekali.”

Program andalan LE lainnya, menurut Purwaji, yaitu menggratiskan pendidikan bagi anak-anak Riau sampai ke jenjang perguruan tinggi. Program ini jauh lebih maju dibandingkan dengan Wajar (Wajib Belajar) 9 Tahun sebagai program nasional, yang menggariskan minimal pendidikan hanya sampai jenjang SMTP. “Bapak-bapak dan Ibu-ibu tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan biaya pendidikan anak-anak,” katanya.

Kalau biaya pendidikan anak-anak sudah ditanggung pemerintah sampai ke jenjang peruruan tinggi, kata mantan Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Riau itu, selain para orangtua tidak perlu lagi menjual atau menggadaikan harta atau barang berharga untuk pendidikan anak-anak, “Aset Bapak-bapak dan Ibu-ibu tentu akan bisa terpelihara, dan kalau mungkin ditingkatkan,” sambungnya.

Program lain LE yang mendapat apresiasi dari jajaran PKB, menurut Purwaji, yaitu memfungsikan tanah atau lahan untuk diabdikan bagi kesejahteraan masyarakat yang lebih luas. Caranya, dijelaskan Purwaji, LE bertekad tidak akan memperpanjang izin-izin perusahaan yang sudah habis masa berlakunya, dan akan menyerahkan tanah eks perusahaan tersebut untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat.

Tapi, diingatkan Purwaji, apa-apa yang ia sampaikan tentang LE hanya merupakan sebentuk sumbangan pemikiran. “Soal apakah nanti akan memilih Pak Lukman atau tidak, sepenuhnya hak bagi semua anggota masyarakat yang telah memiliki hak pilih,” katanya. “Kami hanya mencoba menawarkan sesuatu yang kami anggap baik bagi kepentingan daerah dan masyarakat,” sebutnya. 

Purwaji melakukan itu tidak lain dimaksudkan agar masyarakat tidak salah pilih, antara lain  karena terdorong iming-iming yang tidak jelas dari pihak-pihak tertentu. “Mencoblos paling hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit di bilik suara, tapi dampaknya nasib daerah ini dan masyarakatnya di lima tahun ke depan,” kata Purwaji mengingatkan.(e2)
 


5 Komentar :

pengobatan penyakit batu gijal
25 Mei 2013 - 07:41:12 WIB

konjungan pagi... trimakasih pak artikelya baus.
Jelly Gamat Gold G
25 Mei 2013 - 07:46:11 WIB

Thanks atas artikelnya, makin nambah wawasan saya
obat gagal ginjal herbal
25 Mei 2013 - 07:57:11 WIB

Menarik sekali..
Artikel yang Anda berikan sangat bermanfaat,,
salam semangat..
obat maag kronis
25 Mei 2013 - 08:07:07 WIB

Informasinya boleh banget nih.
terimakasih ya atas informasinya
jual jelli gamat gold g
25 Mei 2013 - 08:11:07 WIB

selamat siang pak, semoga hari ini berhasil
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)